MEGAPOLITAN | Perkotaan
Minggu, 07 Agustus 2011
Transportasi Umum
JAKARTA - Anjloknya rel kereta api Jatinegara menjadi bukti rendahnya kepedulian pemerintah pusat dalam membangun infrastruktur jaringan transportasi massal kereta api. Hingga saat ini, sebagian besar infrastruktur rel kereta api masih merupakan peninggalan masa penjajahan Belanda.
"Anjloknya kereta api itu berkaitan dengan rel. Perbaikan dan pembangunan rel merupakan tanggung jawab pemerintah pusat," kata pengamat transportasi, Jehansyah Siregar, Minggu (7/8).
Jehansyah menjelaskan infrastruktur rel kereta api merupakan proyek jangka panjang yang dikelola langsung oleh pemerintah pusat. Penyediaan anggaran untuk membangun jaringan baru dan mengganti yang lama merupakan bagian dari investasi ekonomi publik dan tanggung jawab pemerintah terhadap rakyat.
Pihak operator hanya mengelola gerbong dan stasiun kereta yang ada. Oleh karena itu, Jehansyah menilah anjloknya kereta api menjadi bukti rendahnya kepedulian pemerintah terhadap transportasi massal tersebut.
Menurut dia, Indonesia kalah bersaing dengan China dan Korea dalam membangun jaringan rel kereta api. "China untuk kereta cepatnya saja sudah mencapai 6.000 km dengan infrastruktur yang baru. Dengan APBN 1.200 triliun rupiah, Indonesia masih menggunakan rel sisa Belanda," jelasnya.
Terkait kemungkinan mengajak pihak swasta berinvestasi membangun jaringan rel, Jehansyah menilai hal itu sulit terealisasi. Pasalnya, membangun jaringan rel kereta api tidak menguntungkan secara finansial. Karena itu, pembangunan infrastruktur kereta api merupakan investasi ekonomi publik yang wajib dilakukan pemerintah pusat.
Keuntungan pemerintah dari pembangunan rel kereta api memang tidak bisa diharapkan dari pembelian tiket dan pengelolaan stasiun kereta api semata. Menurut dia, keuntungan dari infrastruktur kereta api adalah terurainya kemacetan yang merugikan ekonomi negara 20 triliun rupiah per tahun.
"Keuntungan ekonomi dari memadainya infrastruktur kereta api berasal dari pertumbuhan aktivitas ekonomi masyarakat yang semakin meningkat. Keuntungan itu bisa dihitung dan diperkirakan mencapai 10 triliun setiap tahunnya," tegasnya.
Sebelumnya, Sabtu (6/8) pukul 20.15 WIB, kereta listrik Ekonomi dengan nomor 5850 rute Jakarta-Bekasi anjlok di depan Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Akibat peristiwa tersebut, keberangkatan dua KRL dan empat kereta api jarak jauh terlambat karena harus memutar arah.
"Kereta yang berangkat dari Stasiun Senen harus memutar ke Stasiun Kota, ke Gambir lalu ke Jatinegara pada Sabtu malam lalu. Tapi saat ini sudah berjalan lancar sejak kereta api yang anjlok dievakuasi Minggu pagi pukul 1.15 WIB dan ditarik ke Balai Yasa Manggarai," kata Kepala Humas Kereta Api Daerah Operasional I Mateta Rizalulhaq. frn/P-2
antara
http://m.koran-jakarta.com/index.php?id=68561&mode_beritadetail=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar